KUMPULAN TUGAS KEBIDANAN

BAB II

      PEMBAHASAN

KONTRASEPSI IUD (Cu)

2.1       Pengertian

Intra Uterine Device ( IUD ) adalah salah satu alat kontrasepsi modern yang telah dirancang sedimikian rupa ( baik bentuk, ukuran, bahan, dan masa aktif fungsi kontrasepsinya ). Dilerakkan dalam kaum uteri sebagai usaha kontrasepsi, menghalangi fertilisasi dan menyulitkan telur berimplan dalam uterus.

( Hidayati, Retno.2009:29 )

2.2       Penggolongan IUD yang mengandun Logam

a. Un-Medicated Devices       =         Inert Devices

=          First Generation Devices

Misalnya         :           a. Grafenberg ring

b. Ota ring

c. Margulies coil

d. Lippes loop ( dianggap sebagai IUD standart )

e. Saf-T-Coil

f. Delta loop : modified lippes loop D : penmbahan benang     chomik cutget pada lengan atas, terutama untuk insersi post partum.

b. Medicated Devices                         =          Bio-aktiv devices

=          Second Generation Devices

v  Mengandung logam :

  • AKDR-Cu generasi pertma ( first generation copper devices ) :
    • CuT-200 = Tatum- T
    • Cu-7 = gravigard
    • MLCu-250

v  AKDR-Cu Grnerasi kedua ( second generation copper devices ) :

  • CuT-380A = Para Gard
  • CuT-380Ag
  • Cut-220C
  • Nova-T = NovaGard : mengandung Ag
  • Delta-T : Modified CuT-220C : penambahan benang chromic cutget pada lengan atas terutama untuk insersi post partum.
  • MLCu-375

v  Mengandung Hormon : progesterone stsu zlevonorgestrel

  • Progestasert    =         Alza-T, dengan daya kerja 1 tahun
  • LNG-20            :           mengandung Levonorgestrel

( Hanafi Hartanto.2002 : 204-205 )

 

2.3       Mekanisme Kerja

1. Menghambat kemampuan sperma untuk mauk ke tuba falopii

2. Mempangaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai cavum uteri

3. IUD bekerja terrutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun IUD  membuat sperma sulit masuk kedalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.

4. Memungkinkan untuk mencegah implanasi telur dalam uterus

( Sarwono Prawirohardjo. 2006 : MK-75 )

 

2.4       Keuntungan dan Kerugian IUD

v  Keuntungan

  1. Sebagai kontrasepsi, efektifitasnya tinggi. Sangat efektif : 0,6-0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama ( 1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan )
  2. IUD dapat efektif segera setelah pemasangan
  3. Metode jangka panjang ( 10tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti )
  4. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat
  5. Tidak mempengaruhi hubungan seksual
  6. Meningktkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut  untuk hamil
  7. Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu IUD ( CuT-380A )
  8. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
  9. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus ( apabila tidak terjadi infeksi )
  10. Dapat digunakan sampai menopause ( 1 tahun atau lebihh setelah haid terakhir )
  11. Tidak ada interaksi dengan obat-obat
  12. Membantu mencegah kehamilan ektopik

v  Kerugian

–          Efek samping yang umum terjadi :

  • Perubahan siklus haid
  • Haid lebih lama dan banyak
  • Perdarahan ( spooting ) antar menstruasi
  • Saat haid lebih sakit

–          Komplikasi lain :

  • Merasakan sakit dan kejang selama 3-5hari setelah pemasangan
  • Perdarahan berat pada waktu haid
  • Perfirasi dinding uterus

–          Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS

–          Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering berganti pasangan

–          Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai IUD. PRP dapat memicu infertilitas

–          Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvic diperlukan dalam pemasangan IUD. Sering kali perempuan takut selama pemasangan

–          Sedikit nyeri dan perdarahan terjadi segera setelah pemasangan IUD. Biasanya menghilang dalam 1-2hari

–          Klien tidak dapat melepas IUD oleh dirinya sendiri. Petugas kesehatan terlatih yang harus melepaskan IUD

–          Mungkin IUD keluar dari uterus tanpa diketahui

–          Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi IUD untuk mencegah kehamilan normal

–          Perempuan harus memeriksa posisi benang IUd dari waktu ke waktu. Untuk melakukan ini perempuan harus memasukkan jarinya kedalam vagina, sebagian perempuan tidak mau melakukan ini.

( Sarwono Prawirohardjo. 2006 : MK-75 – MK-76 )

2.5       Persyaratan Pemakaian

v  Yang dapat menggunakan :

–          Usia reproduktif

–          Keadaan nulipara

–          Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang

–          Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi

–          Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya

–          Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi

–          Resiko rendah dari IMS

–          Tidak menghendaki metode hormonal

–          Tidak menyukai untuk mengingat – ingat minum pil setiap hari

–          Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5hari senggama

Pada umumnya ibu dapat menggunakan IUD Cu dengan aman dan efektif.

IUD dapat digunakan pada ibu dalam segala kemungkinan keadaan, misalnya :

–          Perokok

–          Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terlihat adanya infeksi

–          Sedang memakai antibiotika atau anti kejang

–          Gemuk ataupun yang kurus

–          Sedang menyusui

Begitu juga ibu dalam keadaan seperti dibawah ini dapat menggunakan IUD :

–          Penderita tumor jinak payudara

–          Penderita kangker payudara

–          Pusing – pusing, sakit kepala

–          Tekanan darah tinggi

–          Varices ditungkai ata divulva

–          Penderita penakit jantung

–          Pernah menderita stroke

–          Penderita diabetes

–          Penderita penyakit hati atau empedu

–          Malaria

–          Skistosomiasis ( tanpa anemia )

–          Penyakit tyroid

–          Epilepsi

–          Nonpelvik TBC

–          Setelah kehamilan ektopik

–          Setelah pembedahan pelvic

v  Yang Tidak Diperkenankan Menggunakan IUD :

–          Sedang hamil ( diketahui hamil atau kemungkinan hamil )

–          Perdarahan vagna yang tidak diketahui ( sampai dapat dievaluasi )

–          Sedang mnderita inffeksi alat genita ( vaginitis dan servikitis ).

–          Tiga bulan terakhir edang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septic

–          Kelinan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat mampengaruhi cavum uteri.

–          Penyakit trofoblas yang ganas

–          Diketahui  menderita TBC pelvic

–          Kanker alat genital

–          Ukuran rongga rahim kurang dari 5cm

( Sarwono Prawihardjo. 2006 : MK-76 – MK-77 )

 

2.6       Waktu Penggunaan

  • Setiap waktu dlam siklus haid yang dapt dipastikan klien tidak hamil
  • Hari pertama sampai ke-7 siklus haid
  • Segera setelah melahirkan, selam 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pasca persalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea laktasi ( MAL ). Perlu diingat, angka ekspulsi tinggi pada pemasangan segera atau selama 48jam pasca persalinan
  • Setelah menderita abortus ( segera atau dalam waktu 7hari ) apabila tidak ada gejala infeksi
  • Selama 1-5hari setelah senggama yang tidak dilindungi

( Sarwono Prawirohardjo. 2006 : MK-80 )

2.7       Petunjuk Bagi Klien

  • Kembali memeriksakan diri setelah 4-6minggu pemasangan IUD
  • Selama bulan pertama mampergunakan IUD, periksalah benang IUD secara rutin terutama setelah haid
  • Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memeriksakan keberadaan benang setelah haid apabila mengalami ;

–          Kram/kejang diperut bagian bawah

–          Perdarahan diantara haid atau setelah senggama

–          Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak nyaman selama melakukan hubungan seksual

  • Copper T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi dapat dilakukan lebih awal apabila ddiinginkan
  • Kembali keklinik apabila :

–          Tidak dapat meraba benang IUD

–          Merasakan bagian yang keras dari IUD

–          IUD terlepas

–          Siklus terganggu/meleset

–          Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan

–          Adanya infeksi

            ( Sarwono Prawirohardjo. 2006 : MK-80 )

 

 

2.8       Informasi Umum

  • IUD bekerja langsung efektif segera setelah pemasangan
  • IUD dapat keluar dari uterus secara spontan, khususnta selama beberapa bulan pertama
  • Kemungkinan terjadi perdarahan beberapa hari setelah pemasangan
  • Perdarahan menstruasi biasanya akan lebih lama dan lebih banyak
  • IUD mungkin dilepas setiap saat atas kehendak klien
  • Jelaskan pada klien jenis IUD apa yang digunkan, kapan akan dilepas dan berikan kartu tentang semua informasi ini
  • IUD tidak melindungi diri terhadap IMS termasuk irus AIDS
  • Apabila pasangannya beresiko, mereka harus menggunakan kondom seperti halnya IUD

( Sarwono Prawirohardjo. 2006 : MK-80 )

 

2.9       Jadwal Pemeriksaan Ulang IUD

a. 1 minggu setelah pemasangan

b. 2 minggu setelah pemasangan

c. 1 bulan setelah pemeriksaan pertama

d. 3 bulan setelah pemeriksaan kedua

e. setiap 6 bulan – 1 tahun

( http://homewatiaj.wordpress.com/2008/03/20/akdr/ )

KELOMPOK  I

 

KONTRASEPSI PIL KOMBINASI

2.1 DEFINISI

  • Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah kahamilan. (Sarwono. 2009 : 63)
  • Pil Kontrasepsi adalah hormon steroid yang dipakai untuk keperluan kontrasepsi dalam bentuk pil.
  • Kontrasepsi Pil Kombinasi adalah hormon steroid yang dipakai untuk keperluan kontrasepsi dalam bentuk pil yang mengandung hormon estrogen dan progesteron.

Macam-macam Pil Kontrasepsi :

  1. Pil Oral Kombinasi : Disebut juga COC (Combined Oral Contraceptive) yang berisi hormon estrogen dan progesteron.
  2. Pil Mini atau disebut juga POP (Progestine Only Pil) yang hanya berisi progesteron saja.

(Suzanne, Everett. 2007 : 118)

MACAM-MACAM PIL KOMBINASI

Estrogen terdiri dari : a. Etinil Estradiol

b. Mestranol

Progestin terdiri dari : a. Nortisteron                       g. Desogestrel

b. Norelgestromin               h. Drospirenen

c. Levonorgestrel                 i. Noretinodel

d. Gestoden                           j. Norgestrel

e. Noretindron                      k. Etindiol diasetat

f. Linestrenol                         l. Norgestimat

2.2.1 Berdasarkan Kemasan

a. 28 hari (7 pil digunakan selama minggu terakhir pada tiap siklus ) tidak mengandung hormone wanita. Sebagai ganti zat besi dan zat inert. Sehingga membantu pasien untuk membiasakan diri minum pil setiap hari.

b. 21 hari ( seluruh pil mengandung hormone ). Interval 7 hari tanpa pil akanj menyelesaikan 1 kemasan ( mendahului permulaan kemasan baru). Pasien mungkin haid selama 7 hari tersebut. Tetapi pasien harus memulai siklus pil barunya pada hari ke 7 setelah menyelesaikan siklus sebelumnya walaupun haid dating atau tidak.

2.2.2 Berdasarkan jenis

a. Monofasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif esterogen / progestin (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. Misal : Microgynon, Eugynon.

Microgynon : mengandung etiniestradiol 30 mg dan levonogestrel 0,15 mg.

Eugynon : mengandung etinilestradiol 30 mg dan levonogestrel 0,25 mg.

b. Bifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif esterogen / progestin (E/P) dengan dua dosis yang berbeda dengan 7 tablet tanpa hormone aktif. Misal : Bi Novum.

Bi Novum : Terdiri dari : – Etinilestradiol 35 mcg dan Noretisteron 0,5 mg (7 tablet)

– Etinilestradiol 35 mcg dan Noretisteron 1 mg ( 14 tablet ).

c. Trifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif esterogen / progestin (E/P) dengan tiga dosis yang berbeda dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. Misal : Trinordiol.

Trinordiol ; Terdiri dari Etinilestradiol dan levonogestrel. Mengandung estrogen 30 mcg dan progesterone 0,05 mcg (6 tablet), estrogen 40 mcg dan progesterone 0,075 (5 tablet), estrogen 30 mcg dan progesterone 0,125 (10 tablet)

( Everett Suzanne. 2007 : 121 )

2.3          MEKANISME KERJA

v  Menghambat ovulasi.

v  Mencegah implantasi.

v  Lender serviks mengental sehingga sulit dilalui sperma.

v  Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan sendirinya akan terganggu pula.

( Abdul Bari Saifuddin. 2006 : MK – 29 )

2.4 MANFAAT

v  Memiliki efektifitas tinggi (hampir menyerupai efektifitas tubektomi) bila digunakan setiap hari (1 kehamilan / 1000 perempuan dalam tahun pertama penggunaan).

v  Risiko terhadap kesehatan sangat kecil.

v  Tidak mengganggu hubungan seksual.

v  Mudah digunakan

v  Mudah dihentikan setiap saat

v  Siklus haid teratur

v  Banyak darah haid berkurang ( mencegah anemia )

v  Mengurangi nyeri haid

v  Dapat digunakan dalam jangka panjang

v  Dapat digunakan sejak usia remaja – menopause

v  Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat

Membantu mencegah :

v  Kehamilan ektopik

v  Kanker ovarium

v  Kanker endometrium

v  Kista ovarium

v  Penyakit radang panggul

v  Kelainan jinak pada payudara

( Abdul Bari Saifuddin. 2006 : MK – 29 )

2.5 KERUGIAN

v  Mahal

v  Tidak mencegah PMS, HBV, HIV/AIDS

v  Ada interaksi dengan beberapa obat ( rifampisin, barbiturate, dan fenitoin )

v  Perdarahan bercak dan “ breaktrough bleeding “

v  Membosankan karena harus menggunakan setiap hari

( Abdul Bari Saifuddin. 2006. Mk – 30 )

2.6 YANG DAPAT MENGGUNAKAN ( INDIKASI )

v  Usia reproduksi

v  Telah memiliki anak ataupun yang belum memiliki anak

v  Gemuk atau kurus

v  Menginginkan metode kontrasepsi dengan efektifitas tinggi

v  Setelah melahirkan dan tidak menyusui

v  Pasca keguguran

v  Siklus haid tidak teratur dan nyeri haid hebat

v  Menderita tuberculosis (kecuali yang sedang menggunakan rifampisin)

v  Kelainan payudara jinak

v  Penyakit tyroid, penyakit radang panggul, endometruosis, atau tumor ovarium jinak

v  (Abdul Bari Saifudin.2006 : MK-30)

2.7 YANG TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN  ( KONTRAINDIKASI )

v  Hamil / dicurigai hamil

v  Menyusui eksklusif

v  Perdarahan pervaginam yang belum diketahui penyebabkan

v  Penyakit hati akut (hepatitis)

v  Perokok dengan usia > 35 tahun

v  Riwayat penyakit jantung stroke / tekanan darah > 180/110 mmHg

v  Riwayat gangguan faktor pembekuan darah / DM > 20 tahun

v  Kanker payudara / dicurigai kanker payudara

v  Migran dan gejala neurologik fokal (epilepsy / riwayat epilepsi)

v  Tidak dapat menggunakan menggunakan pil secara teratur setiap hari.

(Abdul Bari Saifudin.2006 : MK-31)

2.8 WAKTU MULAI MENGGUNAKAN

v  Setiap saat slagi haid, untuk meyakinkan kalau perempuan tersebut tidak hamil

v  Hari pertama sampai hari ke 7 siklus haid

v  Boleh menggunakan paa hari ke 8, tetapi perlu menggunakan metode kontrasepsi yang lain (kondom) mulai hari ke 8 sampai ke 14 atau tidak melakukan hubungan seksual sampai anda telah menghabiskan paket pil tersebut

v  Setelah melahirkan:

Setelah 6 bulan pemberian ASI eksklusif

Setelah 3 bulan dan tidak menyusui

v  Pasca keguguran (segera atau dalam waktu 7 hari)

v  Bila berhenti menggunakan kontrasepsi injeksi, dan ingin menggantikan dengan pil kombinasi, pil dapat segera diberikan tanpa menunggu haid

(Abdul Bari Saifuddin. 2006 : MK : 31)

2.9 INSTRUKSI KEPADA KLIEN

v  Catatan: tunjukkan cara mengeluarkan pil dari kemasannya dan pesankan untuk mengikuti panahyang menunjuk deretan pil berikutnya

v  Sbaiknya pil diminum setiap hari, lebih baik pada saat yang sama setiap hari

v  Pil yang pertama dimulai pada hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid

v  Sangat dianjurkan penggunannya pada hari pertama haid

v  Pada paket 28 pil, dianjurkan mulai minum pil plasebo sesuai dengan hari yang ada pada paket

v  Beberapa paket pil mempunyai 28 pil, yang lain 21 pil. Bila paket 28 pil habis, sebaiknya anda mulai minum pil dari paket yang baru. Bila paket 21 habis,sebaiknya tunggu 1 minggu baru kemudian mulai minun pil dari paket yang baru

v  Bila muntah dalam waktu 2 jamsetelah menggunakan pil, ambillah pil yang lain

v  Bila terjadi muntah hebat, atau diare lebih dari 24 jam, maka bila keadaan  memungkinkan dan tidak memperburuk keadaan anda, pil dapat diteruskan

v  Bila muntah dan diare berlangsung sampai 2 hari atau kebih, cara penggunaan pil mengikuti cara penggunaan pil lupa

v  Bila lupa minum 1 pil (hari1-21), segera minum pil setelah ingat boleh minum 2 pil pada hari yang sama. Tidak perlu menggunakan metode kontrasepsi yang lain. Bila lupa 2 pil atau lebih (hari1-21), sebaiknya minum 2 pil setiap hari sampai sesuai jadwal yang ditetapkan. Juga sebaiknya gunakan metode kontrasepsi yang lain atau tidak melakukan hubungan seksual sampai telah menghabiskan paket pil tersebut

v  Bila tidak haid, perlu segera ke klinik untuk tes kehamilan

(Abdul Bari Saifuddin. 2006 : MK : 31)

2.10 INFORMASI LAIN YANG PERLU DISAMPAIKAN

Pada permulaan menggunakan pil kadang- kadang timbul mual, pening atau sakit kepala, nyeri payudara, serta perdarahan bercak (spotting) yang bias hilang sendiri. Kelainan seperti ini muncul terutama pada 3 bulan pertama penggunaan pil, dan makin lama penggunaanya kelainan tersebut akan hilang dengan sendirinya. Cobalah minum pil pada saat hendak tidur atau pada saat makan malam. Bila tetap saja muncul keluhan, silahkan berkonsultasi kembali ke dokter

Beberapa jenis obat dapat mengurangi efektivitas pil, seperti rifampisin, fenitoin (dilantin), barbiturate, griseofulvin, trisiklik antidepresan, anpisilin, dan penisilin, tetrasiklin. Klien yang memakai obat-obatan diatas untuk jangka panjang sebaiknyamenggunakan pil kombinasi dengan dosis etinilestradiol 50 ug atau dianjurkan menggunakan metode kontrasepsi yang lain.

Kelompok 3

KONTRASEPSI MINI PIL

Profil

  • Cocok untuk perempuan menyusui yang ingin memakai pil KB.
  • Sangat efektif pada masa laktasi.
  • Dosis rendah.
  • Tidak menurunkan produksi ASI.
  • Tidak memberikan efek samping esterogen.
  • Efek samping utama adalah gangguan perdarahan; perdarahan bercak, atau perdarahan tidak teratur.
  • Dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat.

(Bari Saifudin Abdul, dkk. 2006. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi: MK-48).

Pengertian

Kontrasepsi pil progestin (mini pil) adalah metode kontrasepsi yang mengandung hormon steroid (progesteron sintesis saja) yang digunakan per oral.

Cara Kerja

  1. Menekan ovulasi

Pencegahan ovulasi disebabkan gangguan pada sekresi luteinizing hormone (LH) oleh kelenjar hipofise, sehingga tidak terjadi puncak mid-siklus (pada keadaan normal terjadi puncak sekresi LH di pertengahan siklus dan ini menyebabkan ovum dari folikelnya).

  1. Mencegah implantasi

Mini pil dapat mengganggu perkembangan siklus endoterium dan berada dalam fase yang salah atau menunjukkan ketidakteraturan atau atrofise, sehingga endoterium tidak dapat menerima ovum yang telah di buahi.

  1. Mengentalkan lendir servik

Progestin mencegah penipisan lendir servik pada pertengahan siklus, sehingga lendir servik tetap kental dan sedikit, dimana kondisi ini tidak memungkinkan spermatozoa untuk penetrasi.

  1. Mengubah mobilitas tuba

Transpor ovum melalui saluran tuba mungkin dipercepat, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya fertilisasi.

  1. Perubahan dalam fungsi corpus luteum

Mungkin tidak terjadi perkembangan corpus luteum yang berfungsi normal dari bekas folikel setelah ovulasi, atau corpus luteum berfungsi abnormal dimana sekresi progesteron sangat sedikit sekali sehingga tidak dapat terjadi konsepsi normal dan atau implantasi.

(Hartanto, Hanafi. 1943. KB dan Kontrasepsi: 158)

Indikasi

  • Usia reproduksi, baik bagi yang telah memiliki anak atau belum memiliki anak.
  • Pasca persalinan dan menyusui.
  • Pasca keguguran.
  • Hipertensi (<180/110 mmHg) atau memiliki masalah dengan pembekuan darah.
  • Tidak boleh menggunakan esterogen.
  • (Hidayati, Ratna. 2009. Metode dan Teknik Penggunaan Alat Kontrasepsi :    )
  • Menginginkan suatu metode kontrasepsi yang sangat efektif selama periode menyusui.
  • Pasca persalinan dan tidak menyusui.

(Bari Saifudin Abdul, dkk. 2006. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi: MK-50).

Kontra Indikasi

  • Hamil atau diduga hamil.
  • Pada kehamilan dini dapat menyebabkan maskulinitas dari janin perempuan, meskipun mini pil tidak menyebabkan cacat bawaan atau abortus yang mengancam (kecuali pada progestin dosis tinggi).
  • Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya. Termasuk tidak dapat menerima gangguan menstruasi.
  • Menggunakan obat tuberkulosis (rifampisin) atau obat  untuk epilepsi (fenitoin dan barbiturat).
  • Oleh karena sifat obat ini mengindikasi hormon mikrosom hati, maka akan berakibat pada kadar levonogestrel yang menjadi rendah.
  • Kanker payudara atau riwayat kanker payudara.
  • Mioma uteri.
  • Riwayat stroke.
  • Progestin menyebabkan spasme pembuluh darah.

(Hidayati, Ratna. 2009. Metode dan Teknik Penggunaan Alat Kontrasepsi :    )

Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid.

Sering lupa menggunakan pil.

Keuntungan

  • Sangat efektif (98,5%).
  • Angka kegagalan antara 1,1 – 9,6 per 100 wanita pada tahun pertama penggunaan.
  • Tidak mengganggu hubungan seksual.
  • Tidak mempengaruhi ASI.
  • Mini pil tidak mempengaruhi kuantitas atau jangka waktu laktasi, serta tidak mempengaruhi kesehatan dan pertumbuhan bayi. Ada beberapa penelitian yang melaporkan bahwa mini pil menambah volume ASI.
  • Kesuburan cepat kembali.
  • Setelah akseptor menghentikan pemakaian pil maka ibu dapat segera hamil kembali.
  • Dapat dihentikan setiap saat (Hidayati, Ratna. 2009. Metode dan Teknik Penggunaan Alat Kontrasepsi : 14 ).
  • Nyaman dan mudah digunakan.
  • Sedikit efek samping.
  • Tidak mengandung esterogen

(Bari Saifudin Abdul, dkk. 2006. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi: MK-48).

Kerugian

  • Hampir 30 – 60 % mengalami gangguan menstruasi (perdaharan sela, spoting, amenorea).
  • Peningkatan berat badan.
  • Dipengaruhi oleh aktifitas androgenik levonogestrel yang menyebabkan peningkatan nafsu makan bagi pengguna pil mini.
  • Harus digunakan setiap hari dan pada waktu yang sama (sebaiknya malam hari).
  • Perubahan pada mukus serviks agar dapat memberikan efek membutuhkan waktu 2 – 4 jam, impermeabilitas menurun pada  22  jam setelah pemberian dan setelah 24 jam, penetrasis sperma benar-benar tidak dipengaruhi sehingga bila lupa satu pil kegagalan menjadi besar.
  • Payudara tegang, mual, pusing, dermatitis dan jerawat.
  • Aktifitas levonogestrel menurun kadar globulin pengikat hormon seks (seks hormone binding globulin – SHBG) didalam sirkulasi.
  • Resiko kehamilan ektopik tinggi (4 dari 100 kehamilan).
  • Perubahan dalam motilitas tuba menyebabkan implantasi ektopik lebih besar.
  • Tidak melindungi dari PMS.
  • Wanita yang berisiko terhadap PMS, sebaiknya menggunakan metode pelindung sebagai proteksi dirinya.

(Hidayati, Ratna. 2009. Metode dan Teknik Penggunaan Alat Kontrasepsi : 14 ).

Bila lupa satu pil saja, kegagalan menjadi lebih besar.

efektifitasnya menjadi rendah bila bersamaan dengan obat tuberkulosis atau obat epilepsi.

Hirsutisme (tumbuh rambut atau bulu berlebihan di daerah muka) tetapi sangat jarang terjadi.

Waktu Mulai Menggunakan Mini Pil

v  Mulai hari pertama sampai dengan hari ke-5 siklus haid. Tidak diperlukan pencegahan dengan kontrasepsi lain.

v  Dapat digunakan setiap saat, asal saja tidak terjadi kehamilan. Bila menggunakan setelah hari ke-5 siklus haid, jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari / menggunakan kontrasepsi lain untuk 2 hari saja.

v  Bila klien tidak haid (amenorea), mini pil dapat digunakan setiap saat, asal saja diyakini tidak hamil. Jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau menggunakan kontrasepsi lain untuk 2 hari saja.

v  Bila menyusui antara 6 minggu dan 6 bulan pasca persalinan dan tidak haid, mini pil dapat dimulai setiap saat. Bila menyusui penuh, tidak memerlukan metode kontrasepsi tambahan.

v  Bila lebih dari 6 minggu pasca persalinan dan klien mendapat haid, mini pil dapat dimulai pada hari 1 – 5 hari siklus haid.

v  Mini pil dapat diberikan segera pasca keguguran.

v  Bila klien sebelumnya menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin menggantinya dengan mini pil, mini pil dapat segera diberikan bila saja kontrasepsi sebelumnya digunakan dengan benar atau ibu tersebut sedang tidak hamil, tidak perlu menunggu sampai datangnya haid berikutnya.

v  Bila kontrasepsi yang sebelumnya adalah kontrasepsi suntikan, mini pil diberikan pada jadwal suntikan yang berikutnya tidak diperlukan penggunaan metode kontrasepsi yang lain.

v  Bila kontrasepsi yang sebelumnya adalah kontrasepsi nonhormonal dan ibu tersebut ingin menggantinya dengan mini pil, mini pil diberikan pada hari 1 – 5 siklus haid dan tidak memerlukan metode kontrasepsi lain.

v  Bila kontrasepsi sebelumnya adala hAKDR (termasuk AKDR yang mengandung hormon), mini pil dapat diberikan pada hari 1 – 5 siklus haid, dilakukan pengangkatan AKDR.

(Bari Saifudin Abdul, dkk. 2006. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi: MK-50 ).

Instruksi Pada Klien

v  Minum mini pil setiap hari pada saat yang sama.

v  Minum mini pil yang pertama pada hari pertama haid.

v  Bila klien muntah dalam waktu 2 jam setelah menggunakan pil, minumlah pil yang lain atau gunakan metode kontrasepsi lain bila klien berminat melakukan hubungan seksual pada 48 jam berikutnya.

v  Bila klien menggunakan pil terlambat lebih dari 3 jam, minumlah pil tersebut begitu klien ingat. Gunakan metode pelindung selama 48 jam.

v  Bila klien lupa 1 atau 2 pil, minumlah segera pil yang terlupa tersebut sesegera klien ingat dan gunakan metode pelindung sampai akhir bulan.

v  Walaupun klien belum haid, mulailah paket baru sehari setelah paket terakhir habis.

v  Bila haid klien teratur setiap bulan dan kemudian 1 siklus (tidak haid), atau bila merasa hamil, temui petugas klinik klien untuk memeriksa uji kehamilan.

Informasi Lain Yang Perlu Disampaikan

v  Terjadinya perubahan pola haid merupakan hal yang sering ditemukan selama menggunakan mini pil, terutama pada 2 atau 3 bulan pertama, perubahan pola haid tersebut umumnya hanya bersifat sementara dan tidak sampai mengganggu kesehatan.

v  Kadang-kadang dapat timbul efek samping berupa peningkatan berat badan, sakit kepala ringan dan nyeri payudara, semua efek samping ini tidak berbahaya dan biasanya hilang dengan sendirinya.

v  Obat-obat tertentu seperti obat untuk tuberkolusis (rifampisin) dan beberapa obat epilepsi dapat mengurangi efektifitas mini pil tidak mencegah terjadinya infeksi menular seksual, termasuk AIDS, bila pasangannya memiliki resiko kondom perlu digunakan.

Peringatan Khusus Untuk Pemakai Mini Pil

v  Bila beberapa bulan mengalami haid teratur dan kemudian terlambat haid perlu dipikirkan kemungkinan telah terjadi kehamilan.

v  Bila mengeluh perdarahan bercak yang disertai dengan nyeri perut hebat maka yang pertama sekali dipikirkan adalah kemungkinan kehamilan ektopik.

v  Problem mata (kehilangan penglihatan, kabur) nyeri kepala hebat, maka perlu dipikirkan kemungkinan terjadinya hipertensi atau problem vaskuler.

Merk Dagang Pil Mini Yang Tersedia Diseluruh Indonesia

v  Micronor. Nor-QD. Noriclay. Norod yang mengandung Noretindton                0,350 mg.

v  Microval. Noregeston. Microlut yang mengandung Norgestrel 0,030 mg.

v  Ovrette. Neogest yang mengandung levonorgestrel 0,075 mg.

v  Exluton yang mengandung linestrenol 0,500 mg.

v  Femulen yang mengandung etinodial diasetat 0,500 mg.

(Speroff, Leon, dkk. 1996. Pedoman Klinis Kontrasepsi: 124-125)

KESIMPULAN

Pil adalah metode kontrasepsi yang mengandung steroid (progesteron sintesis saja) yang digunakan per oral ada 2 kemasan mini pil, yaitu 35 dan 28 pil.

Cara kerja mini pil antara lain menekan ovulasi mencegah implatasi mengentalkan lendir serviks dan mengubah motilitas tuba.

Kontrasepsi pil progestin (mini pil) mempunyai keuntungan dan kerugian serta indikasi dan juga kontra indikasi.

Saat melakukan pelayanan KB seorang petugas kesehatan harus menyampaikan bagaimana cara pemakaian mini pil kepada aksetor mini pil.


 

Kelompok 5

KONTRASEPSI IUD (Cu)

2.1       Pengertian

Intra Uterine Device ( IUD ) adalah salah satu alat kontrasepsi modern yang telah dirancang sedimikian rupa ( baik bentuk, ukuran, bahan, dan masa aktif fungsi kontrasepsinya ). Dilerakkan dalam kaum uteri sebagai usaha kontrasepsi, menghalangi fertilisasi dan menyulitkan telur berimplan dalam uterus.

( Hidayati, Retno.2009:29 )

2.2       Penggolongan IUD yang mengandun Logam

a. Un-Medicated Devices       =         Inert Devices

=          First Generation Devices

Misalnya         :           a. Grafenberg ring

b. Ota ring

c. Margulies coil

d. Lippes loop ( dianggap sebagai IUD standart )

e. Saf-T-Coil

f. Delta loop : modified lippes loop D : penmbahan benang     chomik cutget pada lengan atas, terutama untuk insersi post partum.

b. Medicated Devices                         =          Bio-aktiv devices

=          Second Generation Devices

v  Mengandung logam :

  • AKDR-Cu generasi pertma ( first generation copper devices ) :
    • CuT-200 = Tatum- T
    • Cu-7 = gravigard
    • MLCu-250

v  AKDR-Cu Grnerasi kedua ( second generation copper devices ) :

  • CuT-380A = Para Gard
  • CuT-380Ag
  • Cut-220C
  • Nova-T = NovaGard : mengandung Ag
  • Delta-T : Modified CuT-220C : penambahan benang chromic cutget pada lengan atas terutama untuk insersi post partum.
  • MLCu-375

v  Mengandung Hormon : progesterone stsu zlevonorgestrel

  • Progestasert    =         Alza-T, dengan daya kerja 1 tahun
  • LNG-20            :           mengandung Levonorgestrel

( Hanafi Hartanto.2002 : 204-205 )

 

2.3       Mekanisme Kerja

1. Menghambat kemampuan sperma untuk mauk ke tuba falopii

2. Mempangaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai cavum uteri

3. IUD bekerja terrutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun IUD  membuat sperma sulit masuk kedalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.

4. Memungkinkan untuk mencegah implanasi telur dalam uterus

( Sarwono Prawirohardjo. 2006 : MK-75 )

 

2.4       Keuntungan dan Kerugian IUD

v  Keuntungan

  1. Sebagai kontrasepsi, efektifitasnya tinggi. Sangat efektif : 0,6-0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama ( 1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan )
  2. IUD dapat efektif segera setelah pemasangan
  3. Metode jangka panjang ( 10tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti )
  4. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat
  5. Tidak mempengaruhi hubungan seksual
  6. Meningktkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut  untuk hamil
  7. Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu IUD ( CuT-380A )
  8. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
  9. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus ( apabila tidak terjadi infeksi )
  10. Dapat digunakan sampai menopause ( 1 tahun atau lebihh setelah haid terakhir )
  11. Tidak ada interaksi dengan obat-obat
  12. Membantu mencegah kehamilan ektopik

v  Kerugian

–          Efek samping yang umum terjadi :

  • Perubahan siklus haid
  • Haid lebih lama dan banyak
  • Perdarahan ( spooting ) antar menstruasi
  • Saat haid lebih sakit

–          Komplikasi lain :

  • Merasakan sakit dan kejang selama 3-5hari setelah pemasangan
  • Perdarahan berat pada waktu haid
  • Perfirasi dinding uterus

–          Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS

–          Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering berganti pasangan

–          Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai IUD. PRP dapat memicu infertilitas

–          Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvic diperlukan dalam pemasangan IUD. Sering kali perempuan takut selama pemasangan

–          Sedikit nyeri dan perdarahan terjadi segera setelah pemasangan IUD. Biasanya menghilang dalam 1-2hari

–          Klien tidak dapat melepas IUD oleh dirinya sendiri. Petugas kesehatan terlatih yang harus melepaskan IUD

–          Mungkin IUD keluar dari uterus tanpa diketahui

–          Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi IUD untuk mencegah kehamilan normal

–          Perempuan harus memeriksa posisi benang IUd dari waktu ke waktu. Untuk melakukan ini perempuan harus memasukkan jarinya kedalam vagina, sebagian perempuan tidak mau melakukan ini.

( Sarwono Prawirohardjo. 2006 : MK-75 – MK-76 )

2.5       Persyaratan Pemakaian

v  Yang dapat menggunakan :

–          Usia reproduktif

–          Keadaan nulipara

–          Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang

–          Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi

–          Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya

–          Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi

–          Resiko rendah dari IMS

–          Tidak menghendaki metode hormonal

–          Tidak menyukai untuk mengingat – ingat minum pil setiap hari

–          Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5hari senggama

Pada umumnya ibu dapat menggunakan IUD Cu dengan aman dan efektif.

IUD dapat digunakan pada ibu dalam segala kemungkinan keadaan, misalnya :

–          Perokok

–          Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terlihat adanya infeksi

–          Sedang memakai antibiotika atau anti kejang

–          Gemuk ataupun yang kurus

–          Sedang menyusui

Begitu juga ibu dalam keadaan seperti dibawah ini dapat menggunakan IUD :

–          Penderita tumor jinak payudara

–          Penderita kangker payudara

–          Pusing – pusing, sakit kepala

–          Tekanan darah tinggi

–          Varices ditungkai ata divulva

–          Penderita penakit jantung

–          Pernah menderita stroke

–          Penderita diabetes

–          Penderita penyakit hati atau empedu

–          Malaria

–          Skistosomiasis ( tanpa anemia )

–          Penyakit tyroid

–          Epilepsi

–          Nonpelvik TBC

–          Setelah kehamilan ektopik

–          Setelah pembedahan pelvic

v  Yang Tidak Diperkenankan Menggunakan IUD :

–          Sedang hamil ( diketahui hamil atau kemungkinan hamil )

–          Perdarahan vagna yang tidak diketahui ( sampai dapat dievaluasi )

–          Sedang mnderita inffeksi alat genita ( vaginitis dan servikitis ).

–          Tiga bulan terakhir edang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septic

–          Kelinan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat mampengaruhi cavum uteri.

–          Penyakit trofoblas yang ganas

–          Diketahui  menderita TBC pelvic

–          Kanker alat genital

–          Ukuran rongga rahim kurang dari 5cm

( Sarwono Prawihardjo. 2006 : MK-76 – MK-77 )

2.6       Waktu Penggunaan

  • Setiap waktu dlam siklus haid yang dapt dipastikan klien tidak hamil
  • Hari pertama sampai ke-7 siklus haid
  • Segera setelah melahirkan, selam 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pasca persalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea laktasi ( MAL ). Perlu diingat, angka ekspulsi tinggi pada pemasangan segera atau selama 48jam pasca persalinan
  • Setelah menderita abortus ( segera atau dalam waktu 7hari ) apabila tidak ada gejala infeksi
  • Selama 1-5hari setelah senggama yang tidak dilindungi

( Sarwono Prawirohardjo. 2006 : MK-80 )

2.7       Petunjuk Bagi Klien

  • Kembali memeriksakan diri setelah 4-6minggu pemasangan IUD
  • Selama bulan pertama mampergunakan IUD, periksalah benang IUD secara rutin terutama setelah haid
  • Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memeriksakan keberadaan benang setelah haid apabila mengalami ;

–          Kram/kejang diperut bagian bawah

–          Perdarahan diantara haid atau setelah senggama

–          Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak nyaman selama melakukan hubungan seksual

  • Copper T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi dapat dilakukan lebih awal apabila ddiinginkan
  • Kembali keklinik apabila :

–          Tidak dapat meraba benang IUD

–          Merasakan bagian yang keras dari IUD

–          IUD terlepas

–          Siklus terganggu/meleset

–          Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan

–          Adanya infeksi

            ( Sarwono Prawirohardjo. 2006 : MK-80

2.8       Informasi Umum

  • IUD bekerja langsung efektif segera setelah pemasangan
  • IUD dapat keluar dari uterus secara spontan, khususnta selama beberapa bulan pertama
  • Kemungkinan terjadi perdarahan beberapa hari setelah pemasangan
  • Perdarahan menstruasi biasanya akan lebih lama dan lebih banyak
  • IUD mungkin dilepas setiap saat atas kehendak klien
  • Jelaskan pada klien jenis IUD apa yang digunkan, kapan akan dilepas dan berikan kartu tentang semua informasi ini
  • IUD tidak melindungi diri terhadap IMS termasuk irus AIDS
  • Apabila pasangannya beresiko, mereka harus menggunakan kondom seperti halnya IUD

( Sarwono Prawirohardjo. 2006 : MK-80 )

 

2.9       Jadwal Pemeriksaan Ulang IUD

a. 1 minggu setelah pemasangan

b. 2 minggu setelah pemasangan

c. 1 bulan setelah pemeriksaan pertama

d. 3 bulan setelah pemeriksaan kedua

e. setiap 6 bulan – 1 tahun

( http://homewatiaj.wordpress.com/2008/03/20/akdr/ )


 

Kelompok 7

IUD HORMONAL dan EFEK SAMPING

Pengertian

IUD (intra uterine device) atau AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) adalah alat kontrasepsi yang ditempatkan dalam rahim yang terbuat dari plastik khusus yang diberi benang pada ujungnya , benang ini gunanya untuk memeriksa atau kontrol.

IUD Hormonal

Adalah IUD berbentuk T yang terbuat dari etilen atau vinil asetat kopolimer yang mengandung titanium dioksida. Batang vertikalnya mengandung suatu reservoir progesterone 38 mg bersama dengan barium sulfat yang terdispersi dalam cairan silicon, lengan horizontal berstruktur padat dan terbuat dari kopolimer berstruktur sama.

(Leon speroff. 2003 : 208) dan

(http:// khanzima.wordpress.com/2010/03/29/pembinaan-aseptor-kb-melalui-konseling)

Cara Kerja

v  Endometrium yang mengalami transformasi yang irregular, epitel atrofi sehingga menganggu implantasi

v  Mencegah terjadinya pembuahan dengan mengeblok bersatunya ovum dengan sperma.

v  Mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba falopii

v  Menginaktifkan sperma

(Abdul Bari Syaifudin . 2006 : MK-63)

Efektifitas

Sangat efektif ,yaitu 0,5-1 kehamilan per 100 perempuan selama 1 tahun pertama penggunaan.

Keuntungan Kontrasepsi

v  Efektif dengan proteksi jangka panjang (1 tahun)

v  Tidak mengganggu hubungan suami istri.

v  Tidak berpengaruh terhadap ASI.

v  Kesuburan segera kembali sesudah AKDR diangkat.

v  Efek sampingnya sangat kecil.

v  Memiliki efek sistemik yang sangat kecil.

v  Non kontrasepsi.

v  Mengurangi nyeri haid.

v  Dapat diberikan pada usia premenopaus bersamaan dengan pemberian esterogen,untuk mencegah hyperplasia endometrium.

v  Mengurangi jumlah darah haid.

v  Sebagai pengobatan alternative pengganti operasi perdarahan uterus disfungsional dan adenomiosis.

v  Merupakan kontrasepsi pilihan utama pada perempuan premenopaus.

v  Tidak mengurangi kerja obat tuberculosis ataupun obat epilepsi,karena AKDR yang mengandung progesterone kerjannya lokal pada daerah endometrium.

(Abdul Bahri Syaifudin. 2006 : MK-63)

Kerugian

v  Diperlukan pemeriksaan dalam dan penyaringan infeksi genetalia sebelum pemasangan AKDR.

v  Diperlukan tenaga terlatih untuk pemasangan dan pencabutan AKDR.

v  Klien tidak dapat menghentikan sendiri setiap saat, sehingga sangat tergantung pada tenaga kesehatan.

v  Pada penggunaan jangka panjang dapat terjadi amenorea.

v  Dapat terjadi perforasi uterus pada saat insersi (< 1/1000 kasus).

v  Kejadian kehamilan ektopik relatif tinggi.

v  Bertambahnya risiko mendapat penyakit radang panggul sehingga dapat menyebabkan infertilitas.

v  Mahal

v  Progestin sedikit meningkatkan risiko trombosis sehingga perlu hati-hati pada perempuan perimenopause. Risiko ini lebih rendah bila dibandingkan dengan pil kombinasi.

v  Progestin dapat menurunkan kadar HDL-kolesterol pada pemberian jangka panjang sehingga perlu hati-hati pada perempuan dengan penyakit kardiovaskular.

v  Memperburuk perjalanan penyakit kanker payudara.

v  Progestin dapat mempengaruhi jenis-jenis tertentu hiperlipidemia.

v  Progestin dapat memicu pertumbuhan miom uterus.

(Abdul Bahri Syaifudin. 2006 : MK-63)

Yang boleh menggunakan IUD hormonal

v  Usia reproduksi.

v  Tidak memiliki anak maupun belum.

v  Mengingnkan kontrasepsi yang efektif jangka panjang untuk mencegah kehamilan

v  Sedang menyusui dan ingin memakai kontrasepsi.

v  Pasca keguguran dan tidak ditemukan tanda-tanda radang panggul.

v  Tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi hormonal kombinasi.

v  Sering lupa menggunakan pil.

v  Usia pre-menopause dan dapat digunakan bersamaan dengan pemberian esterogen.

v  Mempunyai resiko rendah terhadap PMS.

Yang tidak boleh menggunakan IUD hormonal

v  Hamil atau diduga hamil.

v  Perdarahan pervagina yang belum jelas penyebabnya.

v  Menderita salpingitis,vaginitis,dan endometritis.

v  Menderita penyakit radang panggul atau pasca keguguran septik.

v  Kelainan kongenital rahim.

v  Miom mukosum.

v  Rahim yang sulit digerakkan.

v  Riwayat kehamilan ektopik.

v  Penyakit trofoblas ganas.

v  Terbukti menderita penyakit tuberkulosis panggul.

v  Kanker genetalia / payudara.

v  Sering ganti pasangan.

v  Gangguan toleransi glukosa, progestin menyebabkan peningkatan kadar gula dan insulin.

Waktu pemasangan IUD hormonal

v  Setiap waktu selama siklus haid, jika ibu tersebut dipastikan tidak hamil.

v  Sesudah melahirkan dalam waktu 48 jam pertama paska persalinan, 6-8 minggu, ataupun lebih sesudah melahirkan.

v  Segera sesudah induksi haid, pascakeguguran spontan, atau keguguran buatan, dengan tidak ada bukti-bukti infeksi.

(Abdul bahri Syaifudin . 2006 : MK-64-MK-65)

Instruksi kepada klien

v  Timbulnya kram di perut bagian bawah

v  Adanya perdarahan bercak antara haid atau sesudah melakukan senggama

v  Nyeri sesudah melakukan senggama atau jika suaminya mengalami perasaan kurang enak sewaktu melakukan senggama

v  AKDR perlu diangkat setelah satu tahun atau pun lebih awal bila dikehendaki

v  Bila terjadi ekspulsi AKDR, atau keluar cairan yang berlebihan dari kemaluan, lihat terjadi infeksi atau tidak

v  Muncul keluhan sakit kepala atau sakit kepala makin parah.

Informasi lain yang perlu disampaikan

v  AKDR yang digunakan tersebut segera efektif

v  Pada bulan pertama pemakaian dapat terjadi ekspulsi AKDR

v  Pada pemakaian jangka panjang dapat terjadi amenorea

v  AKDR dapat saja dicabut setiap saat sesuai dengan keinginan klien

v  AKDR tidak dapat melindungi klien terhadap penyakit hubungan seksual dan HIV/AIDS.

Jadwal Kunjungan Kembali Ke Klinik

Normalnya klien harus kembali untuk kontrol pertama sesudah datang haid pertama setelah AKDR dipasang (4-6 minggu), tetapi jangan lebih dari 3 bulan. Ditanyakan masalah-masalah yang muncul selama pemakaian AKDR.

Peringatan khusus untuk pemakaian IUD hormonal

v  Tidak datang haid disertai dengan keluhan mual dan nyeri payudara perlu dicurigai terjadinya kehamilan

v  Nyeri perut bagian bawah perlu dicurigai kemungkinan kehamilan ektopik.

v  Kram/nyeri perut bagian bawah, terutama bila disertai dengan tidak enak badan, demam/menggigil perlu dicurigai kemungkinan terjadi infeksi panggul

v  AKDR jenis ini tidak dapat melindungi diri dari penyakit seksual dan HIV/AIDS.

(Abdul Bari Syaifudin. 2006 : MK-66)

Efek Samping Dan Penaganannya.

  1. Amenorea

Pastikan ibu hamil atau tidak bila klien tidak hamil, AKDR tidak perlu dicabut, dan jika terjadi kehamilan kurang dari 13 minggu dan benang AKDR terlihat, cabut AKDR. Jangan cabut AKDR jika benang tidak kelihatan dan kehamilan >13 minggu. Tapi jelaskan tentang resiko keguguran, kehamilan preterm, infeksi dan kehamilan harus diawasi ketat.

  1. Kram

Jika kramnya tidak parah dan tidak ditemukan penyebabnya, cukup diberi analgetik saja, jika penyebabnya tidak ditemukan dan penderita kram berat, cabut AKDR, dan  ganti dengan AKDR baru atau cari metode kontrasepsi lain.

  1. Perdarahan yang tidak teratur

Ditemukan pada 3-6 bulan pertama. Bila tidak ditemukan kelainan patologik dan perdarahan masih terjadi, dapat diberi ibu profen 3×800 mg untuk satu minggu, atau kombinasi satu siklus saja. Bila perdarahan banyak beri 2 tablet pil kombinasi untuk 3-7 hari saja, juga diberi 1,25 mg esterogen equin konyugsi selam 14-21 hari. Bila perdarahan terus berlanjut sampai klien anemia, cabut AKDR dan bantu klien memilih metode kontrasepsi lain.

  1. Benang hilang

Periksa apakah klien hamil. Bila tidak hamil dan AKDR masih ditempat tidak ada tindakan yang dilakukan. Bila yakin AKDR masih berada didalam rahim dan klien tidak hamil, klien dirujuk dan dilakukan pemeriksaan rontgen/USG. Bila tidak ditemukan pasang kembali AKDR sewaktu datang haid. Jika ditemukan kehamilan dan benang AKDR tidak kelihatan, lihat penanganan ‘amenorea’.

  1. Cairan Vagina/ dugaan radang panggul.

Bila penyebnya kuman gonokokus atau klamidia, cabut AKDR berikan pengobatan yang sesuai. Bila klien dengan penyakit radang panggul dan ingin memakai AKDR, berikan antibiotik selama 2 hari dan baru kemudian AKDR dicabut dan bantu klien untuk memilih metode kontrasepsi lain.

(Abdul Bari Saifuddin. 2006 : Mk-67)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s